(0)

Berita

MEDIA DAN SPIRITUALITAS Nobar dan Diskusi Film

30 Agustus 2026 | Berita | Yoseph Ispuroyanto SJ | 11 Views

 

Pada Jumat 21 Agustus 2026 pukul 16.00–19.00 telah diselenggarakan acara Nobar dan Diskusi Film “Bunga Lily di Taman Revolusi” di Studio Audio Visual (SAV) – USD, Jaban Sinduharjo, Ngaglik, Sleman. Peserta acara ini terdiri dari para mahasiswa lintas prodi, katekis, biarawan-biarawati aneka kongregasi (OSF, OFM, FCh, HK, PMY, OSU, SJMJ, SJ) dan kru film (total 56 peserta). Film ini merupakan hasil karya kreatif Yayasan Marsudirini yang bekerjasama dengan SAV-USD. Film ini telah diluncurkan untuk pertama kali di Soegijapranata Catholic University Semarang pada 9 Mei 2026 dan setelah itu ditayangkan selama empat hari berturut-turut  di tempat yang sama untuk keluarga besar Marsudirini yang ada di Semarang. Kemudian  ditayangkan juga di Auditorium Driyarkara – USD pada 26 Mei 2026 untuk 800 penonton, keluarga besar Marsudirini yang ada di Muntilan, Solo dan DIY. Tak ketinggalan keluarga besar Marsudirini yang ada di Jakarta dan Bogor telah menikmati film ini dalam minggu terakhir Juli 2026 selama nobar di Jakarta dan Bogor.    

                            

       

 

Sebelum ditayangkan, Sr. Agnesine HK (Agnes Rima Asmara, mahasiswa PGSD-USD) selaku moderator menyampaikan kata pengantar. Film yang berdurasi 1 jam 40 menit ini mengangkat kisah hidup Catharina (Magdalena) Daemen yang semasa kecil akrab disapa Trieneke, seorang perempuan sederhana kelahiran Belanda tahun 1787 dari keluarga petani yang bersahaja. Ia tidak mengenyam pendidikan tinggi, penampilannya pun tidak istimewa, bahkan tidak jarang ia dipandang sebelah mata oleh orang-orang di sekitarnya, termasuk oleh para pastor dan uskupnya sendiri. Ia hidup pada masa yang penuh gejolak. Paruh kedua abad ke-18 adalah masa ketika Eropa diliputi semangat rasionalisme dan gelombang Revolusi Perancis yang turut menumbuhkan sikap antipati terhadap kehidupan religius. Banyak biara ditutup paksa atas perintah Kaisar Josef II dari Austria,  karena dianggap tidak lagi memiliki manfaat bagi masyarakat. Di tengah situasi yang tidak bersahabat itu, Trieneke tetap teguh memegang keyakinannya bahwa penyelenggaraan Tuhan senantiasa menyertai — sebuah keyakinan yang dikenal dengan semboyan Deus Providebit. Dan dari kesederhanaan serta ketekunannya itulah lahir sebuah kongregasi religius, yaitu Suster-suster Fransiskanes dari Heythuisen yang kini telah berkembang ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia.

                                                                                                Narasumber dan Moderator

Setelah menyaksikan film “Bunga Lily di Taman Revolusi”, diadakan diskusi bersama. Narasumber pertama yang diundang adalah Sr. M. Sussana OSF yang menjabat Pimpinan Komunitas Biara OSF Bangkong Semarang dan sekaligus pemeran utama Magdalena Daemen (periode lansia). Narasumber yang kedua adalah Romo FX. Sutarja OFM yang menjabat Pimpinan Biara Bonaventura Papringan Yogyakarta dan pernah menjadi misionaris di Thailand selama 20 tahun.

                                                                                                Ice-breaking setelah 2 jam duduk

Melalui film ini, para penonton merenungkan bagaimana seorang yang tampak biasa dan kerap dipandang sebelah mata, dapat menjadi alat yang begitu bermakna di tangan penyelenggaraan Ilahi. Demikian salah satu ungkapan hati dari seorang peserta. Ketika ditanya tentang kesan-kesannya menonton film ini, Sr. M. Sussana OSF mengaku bahwa ia selalu terkesan, meski sudah lebih dari 4 kali menonton film ini.  Penyeleggaraan ilahi memang pengalaman iman yang menyertai Sr. Sussana sepanjang hidupnya sebagai seorang suster. Menurut Romo Murti SJ, sutradara film ini, Sr. Sussana sungguh menghayati karakter Ibu Magdalena Daemen, sehingga Sr. Sussana tanpa banyak pengarahan sudah langsung bisa main sungguh-sungguh.

Menurut Romo FX. Sutarja OFM, film ini sungguh mengesankan. Tidak hanya satu dua adegan saja, tetapi sebagian besar adegan dalam film ini menggambarkan spiritualitas Fransiskan. Salah satu semangat Fransiskan adalah kerja tangan. Sejak masa mudanya Trieneke (Catharina) sudah tekun melakukan kerja tangan (baik di rumah maupun saat menjadi asisten rumah tangga). Ketika sudah lansia, Magdalena Daemen pun melakukan kerja tangan dengan menyulam kain. Kerja tangan mengungkapkan semangat kemiskinan. Kita harus berjerih payah, makan dari kerja keras kita dan pada saat yang sama mengandalkan Tuhan. Romo Sutarja juga menggarisbawahi kesan salah seorang peserta tentang sikap lepas bebas Ibu Magdalena Daemen. Sebagai pendiri dan pemimpin tarekat yang terus berkembang, Sr. Magdalena Daemen dengan rela hati melepaskan jabatannya kepada Sr. Theresia Rooyarkers. Adegan itu sangat bermakna di tengah dunia yang cenderung berebut kekuasaan.

   Pemeran Utama, Penulis Naskah & Produser

Dalam acara nobar ini juga hadir Sr. M. Patrice OSF sebagai Produser dan Bp. Andreas Jarot Suryo Legowo sebagai penulis naskah film dan penulis novel yang terbit bersama film ini. Bagi Sr. Patrice, terwujudnya cita-cita untuk membuat film tentang Ibu Pendiri adalah sebuah penyelenggaraan ilahi. Ada  begitu banyak pihak yang rela membantu, antara lain SAV-USD yang dengan murah hati mau berkolaborasi dan membimbing tim Marsudirini dalam mewujudkan film ini. Syuting film ini memang membutuhkan waktu 11 hari penuh, tetapi bila dihitung dari perencanaan sampai selesai editing, penggarapan film ini butuh waktu 1 tahun.

Menurut Bapak Jarot, seluruh perjalanan hidup Ibu Magdalena Daemen dari kecil hingga meninggalnya terdiri dari rangkaian kebetulan-kebetulan. Ibu Magdalene Daemen mau bekerjasama dengan rahmat Tuhan di dalam peristiwa-pperistiwa  kebetulan itu. Sebuah pertanyaan yang tertinggal di hati kita setelah nonton film ini adalah apakah dalam kebetulan yang kita alami kita menyambut penyelenggaraan ilahi dengan penuh keyakinan?

Sepanjang nonton film ini, tidak sedikit dari para suster yang terharu sampai meneteskan air mata. Alasannya, menyaksikan perjalanan hidup Magdalene Daemen sebetulnya penonton mengkontemplasikan sejarah hidupnya sendiri. Magdalena Daemen adalah perempuan yang gigih memperjuangkan apa yang diyakininya sebagai kehendak Tuhan. Kesulitan tidak menyurutkan langkahnya. Hidupnya semakin matang, bukan karena kemudahan, melainkan karena tantangan. “Scroll TikTok sampai lupa waktu, baru ingat tugas belum selesai. Panggilan hidup memang tak selalu tahu, tapi percayalah Tuhan tuntun sampai selesai,” demikian pantun moderator yang mengakhiri diskusi. (Peliput: Yoseph Ispuroyanto SJ).  ***

 

Berita Terbaru

MEDIA DAN SPIRITUALITAS Nobar dan Diskusi Film

  Pada Jumat 21 Agustus 2026 pukul 16.00–19.00 telah diselenggarakan acara ...


BUNGA LILY DI TAMAN REVOLUSI: Kerjasama Produksi Film Yayasan Marsudirini dan Studio Audio Visual/LPPM Universitas Sanata Dharma

  BUNGA LILY DI TAMAN REVOLUSI: Kerjasama Produksi Film Yayasan Marsudirini ...


Foto Terbaru

Video Terbaru