
Beberapa minggu menjelang Pilpres maupun sesudah Pilpres 2019 hati penulis merasa miris, karena melihat gejala keterbelahan masyarakat Indonesia akibat perbedaan pilihan antara penudukung nomor 01 dan 02. Ujaran kebencian dan hoax beredar secara masif melalui media sosial. Pertanyaan yang muncul dalam hati: apakah negeri Indonesia yang sejak lama dikenal sebagai bangsa ramah-toleran ini akan segera tercerai berai? Sementara itu masyarakat Indonesia juga sedang dilanda fenomena radikalisme yang mencemaskan. Apakah damai di bumi Indonesia masih bisa kita pelihara?
Dalam masa persiapan Natal umat Kristiani diajak untuk merenungkan warta damai dari Kitab Yesaya 11:1-10. Warta itu antara lain berbunyi: “Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. ,,,,, ” (ay. 6-8).
Nas di atas adalah suatu gambaran janji Allah tentang masa depan yang penuh kedamaian. Warta itu memberikan harapan, meskipun bagi pikiran manusia janji indah itu sulit terwujud. Bagaimana perbedaan-perbedaan di tengah masyarakat bisa menciptakan suasana damai, terlebih bila perbedaan itu sudah dipolitisir dengan menggunakan identitas agama? Bukankah tendensi untuk memisahkan kelompokmu dari kelompokku semakin meningkat?
Sejak 1995 penulis bersama tim Studio Audio Visual (SAV) Puskat mengasuh program Penyejuk Imani Katolik di Indosiar yang disiarkan dua minggu sekali pada Minggu pagi. Kami memakai pendekatan yang inklusif, sehingga umat agama lain bisa bisa memetik maknanya. Namun penulis beberapa kali menerima pertanyaan dari pemirsa yang beragama Katolik: “Mengapa Romo, selain menyiarkan kegiatan orang Katolik, sering menyisipkan kegiatan sosial dari agama lain di mimbar kita? Mengapa rubrik yang sudah disediakan bagi agama Katolik dan hanya 30 menit, dan apalagi siarannya semakin pagi itu tidak Romo gunakan seluruhnya untuk memperbesar kebanggaaan orang-orang Katolik?”
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu membuat penulis merenung dan ingat akan sikap Yesus dalam Injil. Pada waktu itu Yesus ditanya oleh seorang ahli Taurat: “Guru, apa yang harus kuperbuat?” Yesus memberi contoh seorang Samaria yang murah hati. Orang itu menolong orang Yahudi yang dirampok habis-habisan. (Bdk. Luk. 10:25-37). Kita tahu bahwa Yesus beragama Yahudi dan demikian juga ahli Taurat yang bertanya itu. Di lain pihak, orang Samaria oleh orang Yahudi dianggap sebagai umat yang tidak setia, bahkan mereka sudah dikucilkan dari Bait Allah, dan dianggap sebagai orang kafir.
Mengapa orang Samaria itu oleh Yesus justru dipilih sebagai teladan? Bukankah ini berarti bahwa kita dapat belajar dari semua orang yang berkehendak baik, meskipun mereka beragama lain? Bukankah Yesus juga menyampaikan perumpamaan tentang pohon dan buahnya? Pohon yang baik menghasilkan buah yang baik. Tidak mungkin pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang baik (Bdk. Luk. 6:43-45). Dengan demikian, orang di luar agama kita yang menghasilkan buah yang baik, mereka juga orang baik. Rupa-rupanya, sikap Yesus ini tidak mudah dimengerti oleh sebagian orang Kristiani. Oleh karena itu, tidak mudah pula untuk dihayati.
Pernah juga, salah seorang murid Yesus, yaitu Yohanes berkata: “Guru, kami lihat seorang mengusir setan demi namaMu, lalu kami cegah orang itu, karena ia bukan pengikut kita. Yesus berkata: Jangan kamu cegah, sebab barang siapa tidak melawan kamu, ia di pihak kamu” (Luk. 9:49-50). Penulis mengamati bahwa begitu banyak orang Islam, orang Budha, orang Hindu, orang Kong Hu Chu, dll. yang tidak melawan orang Kristiani, dan oleh sebab itu mereka bukan musuh. Di lain pihak, ternyata ada orang Kristiani yang tidak di pihak orang Kristiani, karena mereka tidak setuju dengan usaha-usaha orang Kristiani sendiri untuk melawan korupsi, melawan ketidakadilan dan untuk memperjuangkan kerukunan. Mereka ini lebih mencari keamanan dan memupuk rasa bangga yang sia-sia.
Di hadapan kenyataan seperti itu, perayaan Natal mengajak kita umat beriman untuk menyusun strategi baru, yaitu menghilangkan sekat-sekat dan merangkul semua orang yang berkehendak baik dalam rangka mendukung tumbuhnya usaha-usaha perdamaian dari mana pun datangnya inisiatif itu. Umat Kristiani meyakini bahwa Yesus Sang Raja Damai datang untuk “merubuhkan tembok pemisah, yakni perseteruan” (Ef. 2:14). Kita yang hidup bersama di dunia ini terikat oleh prinsip toleransi yang sama. Dalam “Kata Pengantar” buku Etik Global disebutkan bahwa Parlemen Agama-agama Sedunia di Chicago pada 1893 telah menyepakati kunci emas berikut ini sebagai cara beretika global: “Tak seorang pun di antara kamu yang beriman sepanjang tidak mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Hans-Kung, Etik Global, Pustaka Pelajar, 1999, hlm. xx-xxi).
Kemudian prinsip hidup bersama itu ditegaskan kembali dalam deklarasi tentang “Persahabatan Manusia untuk Perdamaian dan Hidup Bersama” yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Al-Azhar Ahmad Al-Tayyib di Abu Dhabi pada 4 Februari 2019. Salah satu pesan penting dari deklarasi ini ialah bahwa kita diundang untuk mengadakan rekonsiliasi dan persaudaraan di antara semua orang beriman, bahkan di antara orang percaya dan yang tidak percaya, dan di antara semua orang yang berkehendak baik. Sebuah ajakan yang membangkitkan harapan untuk bersama membangun perdamaian.
Kembali ke warta nabi Yesaya di atas. Di sana digambarkan bagaimana pihak-pihak yang semula tidak bisa ‘ada bersama’ akan bisa hidup rukun satu sama lain: serigala dan domba, macan tutul dan kambing akan tinggal bersama, lembu dan anak singa, bayi dan ular tedung, kanak-kanak bermain dengan ular berbisa. Dalam warta damai itu ada yang lebih bermakna daripada sekedar ‘ada bersama’. Dikatakan bahwa beruang akan makan rumput dan singa makan jerami. Artinya kaum penguasa yang biasanya memangsa akan meninggalkan tabiat ganasnya dan akan hidup dengan cara yang sama seperti mereka yang menjadi korban. Inilah buah dari pertobatan. Secara manusiawi nampaknya hal itu mustahil. Namun Nabi Yesaya memperkenalkan daya dan kebesaran Tuhan yang bisa mengubah kekerasan yang menghancurkan menjadi kekuatan yang melestarikan kehidupan. Yang bermusuhan mau berjabat tangan dan berangkulan.
Oleh sebab itu, umat beriman perlu percaya akan kebesaran Tuhan. Kehadiran Yang Ilahi di tengah kehidupan manusia bukanlah sebuah utopi. Mesti ada orang yang bertindak atas dasar kepercayaan ini. Mengenali kehadiran Yang Ilahi di tengah kehidupan berarti kita menjadi bijak. Kepemimpinan orang yang bijak akan membawa orang keluar dari krisis dan ketakutan. Pemimpin seperti ini tentu punya hubungan akrab dengan Yang Ilahi, maka ia bisa diandalkan. Nah, kalau dalam lingkup RT, RW, kelurahan, kecamatan, kota madya, kabupaten, provinsi, dan bahkan lingkup nasional ada pemimpin yang mampu menggerakkan orang untuk mengejar kemakmuran bersama; dan mampu mempersatukan orang-orang yang semula saling bermusuhan; di situlah warta nabi Yesaya mulai menjadi kenyataan. Di situlah ada warta damai Natal. “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Luk. 2:14). Selamat Natal dan Selamat Menjadi Sahabat bagi Semua Orang.
***