Harga: Rp 30.000
Deskripsi: <div align="justify">1994, 24 menit, versi Indonesia & Inggris
<br>
<br> Program film ini merupakan serial Balai Budaya, dibuat dengan format semi-dokumenter.
Ceritanya merupakan paduan antara pengalaman nyata kehidupan komunitas Balai Budaya
Minomartani, Yogyakarta dan cerita buatan. Tujuannya untuk mengangkat budaya lokal
dan menciptakan kehidupan yang serasi antara manusia, alam, sesama dan Tuhan.
<br>
<br>Isi ringkas: Warga desa Minomartani menginginkan sebuah tempat untuk mengekspresikan
diri secara bebas. Keinginan itu terpenuhi berkat kemurahan seseorang keturunan
pangeran. Maka Balai Budaya itu menjadi tempat berkumpulnya masyarakat, dari kanak-kanak
sampai orang dewasa. Mereka berlatih tari, gamelan, wayang, dll. Wayang Kancil
adalah sejenis wayang kulit yang tokoh-tokohnya adalah binatang. Tokoh utama bernama
Kancil. Ceritanya diangkat dari cerita rakyat yang padat dengan nilai-nilai kejujuran,
keadilan, dan keserasihan dengan alam. Anak-anak sangat menyukai wayang kancil
ini. Namun seperangkat wayang kancil terpaksa dijual ke Australia karena yang
empunya butuh uang. Sedihlah anak-anak. Bp. Waji sebagai pamong Balai Budaya juga
sedih, bagaimana bisa mengobati kerinduan anak-anak. Mereka terus bertanya kepada
kakak-kakak (Mas Didik, dkk.) yang sering main sebagai dalang maupun penabuh gamelan.
Kapan kancil akan kembali di antara mereka? Anak-anak itu menyurati Kancil. Akhirnya
wayang kancil itu oleh pembelinya dikembalikan kepada warga Minomartani. Maka
anak-anak itu berbahagia kembali, karena Kancil kesayangannya telah kembali.
<br>
<br>Program ini menjadi bahan refleksi bagi para siswa, mahasiswa, guru, tokoh-tokoh
masyarakat agar mencintai kebudayaan lokal dan tidak tergoda untuk mengganti kebudayaan
lokal yang adalah identitas dirinya dengan kebudayaan asing. </div>
<p align="justify"> </p>
Dilihat: 35482
1994, 24 menit, versi Indonesia & Inggris
Program film ini merupakan serial Balai Budaya, dibuat dengan format semi-dokumenter.
Ceritanya merupakan paduan antara pengalaman nyata kehidupan komunitas Balai Budaya
Minomartani, Yogyakarta dan cerita buatan. Tujuannya untuk mengangkat budaya lokal
dan menciptakan kehidupan yang serasi antara manusia, alam, sesama dan Tuhan.
Isi ringkas: Warga desa Minomartani menginginkan sebuah tempat untuk mengekspresikan
diri secara bebas. Keinginan itu terpenuhi berkat kemurahan seseorang keturunan
pangeran. Maka Balai Budaya itu menjadi tempat berkumpulnya masyarakat, dari kanak-kanak
sampai orang dewasa. Mereka berlatih tari, gamelan, wayang, dll. Wayang Kancil
adalah sejenis wayang kulit yang tokoh-tokohnya adalah binatang. Tokoh utama bernama
Kancil. Ceritanya diangkat dari cerita rakyat yang padat dengan nilai-nilai kejujuran,
keadilan, dan keserasihan dengan alam. Anak-anak sangat menyukai wayang kancil
ini. Namun seperangkat wayang kancil terpaksa dijual ke Australia karena yang
empunya butuh uang. Sedihlah anak-anak. Bp. Waji sebagai pamong Balai Budaya juga
sedih, bagaimana bisa mengobati kerinduan anak-anak. Mereka terus bertanya kepada
kakak-kakak (Mas Didik, dkk.) yang sering main sebagai dalang maupun penabuh gamelan.
Kapan kancil akan kembali di antara mereka? Anak-anak itu menyurati Kancil. Akhirnya
wayang kancil itu oleh pembelinya dikembalikan kepada warga Minomartani. Maka
anak-anak itu berbahagia kembali, karena Kancil kesayangannya telah kembali.
Program ini menjadi bahan refleksi bagi para siswa, mahasiswa, guru, tokoh-tokoh
masyarakat agar mencintai kebudayaan lokal dan tidak tergoda untuk mengganti kebudayaan
lokal yang adalah identitas dirinya dengan kebudayaan asing.