Program film ini merupakan serial Balai Budaya, dibuat dengan format semi-dokumenter. Ceritanya merupakan perpaduan antara pengalaman nyata kehidupan komunitas Balai Budaya Minomartani, Yogyakarta dan cerita buatan. Tujuannya untuk mengangkat budaya lokal dan kehidupan yang serasi antara manusia, alam, sesama dan Tuhan.
Isi ringkas: Bp. Darpo sedang memperbaiki genting di rumah keluarga Bp. Sarman. Secara tak sengaja sebuah genting meluncur ke bawah dan jatuh tepat di kepala Bp. Sarman yang sedang bekerja di bawah. Ia pingsan. Isteri, anak dan tetangga datang menolongnya. Peristiwa itu menjadi bahan pembicaraan warga desa, termasuk juga komunitas Balai Budaya yang malam itu sedang latihan gamelan. Peristiwa itu dikait-kaitkan dengan kepercayaan akan adanya keadaan kehidupan yang membawa sial. Kebetulan Bp. Sarman mempunyai dua anak, putera dan puteri. Atau disebut anak gedono-gedini yang sering membawa sial. Bp. Waji, seorang pamong Balai Budaya menengahi diskusi yang ramai itu dan meminta agar meneruskan latihan gamelan. Pada hari yang lain, Yani anaknya Bp. Sarman memboncengkan temannya dengan sepeda dan mengalami tabrakan dengan sepeda motor. Kembali keluarga Bp. Sarman menjadi bahan pembicaraan. Akhirnya warga sepakat untuk mengadakan upacara ruwatan untuk membuang sial atau untuk membersihkan kehidupan ini dari segala gangguan. Upacara itu dihadiri oleh banyak keluarga yang ingin mengadakan pembersihan dari segala gangguan. Memang ada yang pro dan kontra terhadap upacara ini. Namun mereka yang ikut ruwatan mengakui bahwa mereka telah dilahirkan secara baru, mereka dilepaskan dari hambatan, sehingga menjadi serasi dengan alam, sesama dan Tuhan.
Program ini amat cocok untuk diskusi tentang kebudayaan, kepercayaan lokal, dan dialog agama-agama. Para siswa SLTP, SMU, para mahasiswa, dan pencinta kebudayaan dapat memanfaatkan program ini.